Lahan sawah seluas Β±35 hektar dengan produktivitas 5β6 ton/ha per musim. Varietas unggul Ciherang dan Mekongga menjadi andalan petani.
Perkebunan jagung hibrida Β±18 hektar dikelola 3 kelompok tani dengan hasil panen rata-rata 7 ton/ha. Dipasarkan ke pedagang pengumpul Sipirok.
Perkebunan kopi robusta Β±12 hektar di lereng bukit menghasilkan kopi berkualitas dengan cita rasa khas dataran tinggi Tapanuli Selatan.
Berbagai jenis sayuran seperti cabai, tomat, kubis, dan wortel ditanam di lahan hortikultura Β±8 hektar dan dipasok ke pasar Sipirok.
Pohon aren tumbuh alami di lereng bukit. Warga mengolah nira menjadi gula aren dan tuak manis khas Angkola yang bernilai ekonomi tinggi.
Ternak sapi, kerbau, kambing, dan ayam buras dipelihara warga sebagai tabungan hidup dan sumber protein keluarga.
Panorama perbukitan hijau yang memukau dari desa, cocok untuk wisata alam dan fotografi landscape khas Sumatera Utara.
Aliran sungai jernih dan potensi air terjun di sekitar desa yang dapat dikembangkan menjadi destinasi ekowisata yang menarik.
Tradisi adat Dalihan Na Tolu, pertunjukan gordang sambilan, tari tor-tor, dan kuliner khas Angkola sebagai daya tarik wisata budaya.
Produk gula aren cetak dan gula aren cair diolah secara tradisional, diminati konsumen lokal dan pasar kota Padangsidimpuan.
Ibu-ibu PKK menenun ulos Batak Angkola secara tradisional, menghasilkan produk bernilai seni tinggi yang mulai diminati kolektor.
Aneka makanan khas seperti arsik ikan, naniura, dan panggang khas Angkola disiapkan untuk acara adat dan mulai dikembangkan sebagai produk UMKM.